Resensi Buku Anak Juga Manusia: Belajar Menjadi Orangtua yang Mau Tumbuh

Ada banyak buku parenting yang datang dengan suara cukup keras: begini cara membuat anak patuh, begini cara mendisiplinkan anak, begini cara membentuk anak sesuai harapan orangtua. Di antara buku-buku semacam itu, buku Anak Juga Manusia terasa mengambil jalan yang lebih tenang. Buku ini tidak sibuk menawarkan resep cepat untuk mengatasi semua masalah pengasuhan. Sebaliknya, ia mengajak orangtua berhenti sejenak dan melihat anak sebagai manusia utuh, bukan sebagai proyek yang harus segera berhasil.
Itulah kesan paling kuat setelah membaca resensi buku Anak Juga Manusia ini secara keseluruhan. Gagasannya sederhana, tetapi justru sering terlupakan dalam kehidupan sehari-hari: anak punya perasaan, punya kebutuhan untuk didengar, dan sedang belajar memahami dunia dengan kemampuan yang belum sempurna. Orangtua pun tidak selalu tahu jawaban atas segala hal. Dari sana, buku ini membangun percakapan yang cukup penting tentang pengasuhan yang lebih manusiawi.
Ditulis oleh Angga Setyawan dan diterbitkan oleh Noura Books Publishing pada 2019, buku ini memiliki 184 halaman. Ukurannya tidak terlalu tebal, sehingga cukup mudah dibaca secara bertahap di sela-sela kesibukan mengurus rumah, pekerjaan, atau anak. Namun, jumlah halaman yang relatif ringkas itu tidak membuat pembahasannya terasa kosong. Ada banyak bagian yang bisa membuat pembaca berhenti, mengingat kembali perkataan kepada anak, dan bertanya kepada diri sendiri: selama ini aku sedang mendidik atau sekadar menuntut?
Sinopsis Buku Anak Juga Manusia

Secara umum, sinopsis buku Anak Juga Manusia dapat dirangkum sebagai ajakan untuk mengubah cara pandang terhadap anak. Anak bukan benda yang bisa dipesan sesuai keinginan, bukan pula robot yang dapat langsung mengikuti perintah setelah diberi aturan. Ia adalah manusia yang sedang bertumbuh, dengan emosi, rasa takut, rasa ingin tahu, dan kebutuhan untuk merasa aman di dalam keluarganya.
Buku ini juga menyentuh satu kenyataan yang kadang membuat orangtua tidak nyaman: pengasuhan bukan hanya proses membentuk anak, tetapi juga proses membentuk ulang diri orangtua. Ketika anak tantrum, membantah, sulit makan, atau melakukan kesalahan, yang diuji bukan cuma perilaku anak. Kesabaran, pengetahuan, luka masa lalu, dan kebiasaan orangtua ikut muncul ke permukaan. Karena itu, pesan buku ini tidak berhenti pada “pahami anak”, melainkan juga mengajak orangtua memahami dirinya sendiri.
Angga Setyawan tidak menempatkan orangtua sebagai sosok yang harus selalu benar. Orangtua boleh lelah, boleh keliru, dan boleh belum mengerti. Yang penting adalah kesediaan untuk belajar, memperbaiki cara berkomunikasi, lalu kembali hadir untuk anak. Bagi saya, sudut pandang ini terasa melegakan karena pengasuhan sering kali dibicarakan seolah-olah hanya ada dua pilihan: menjadi orangtua sempurna atau dianggap gagal.
Anak Bukan Proyek Ambisi Orangtua
Tema utama yang paling menonjol dalam buku ini adalah penghormatan terhadap anak sebagai individu. Anak memang belum dewasa, tetapi bukan berarti ia tidak layak didengarkan. Ia mungkin belum dapat menjelaskan emosinya dengan rapi, belum mampu mengambil keputusan dengan matang, dan masih membutuhkan batasan. Namun, semua itu tidak menghapus haknya untuk diperlakukan dengan lembut dan dihargai.
Di sinilah review buku Anak Juga Manusia terasa relevan untuk banyak keluarga. Kadang-kadang orangtua memandang anak melalui daftar pencapaian: sudah bisa membaca atau belum, nilainya bagus atau tidak, penurut atau sering membantah, membanggakan keluarga atau justru merepotkan. Padahal, anak bukan kumpulan prestasi. Nilai dirinya tidak seharusnya naik turun hanya karena ia berhasil memenuhi ekspektasi orang dewasa.
Buku ini mengingatkan bahwa anak memiliki jalan tumbuhnya sendiri. Ia mungkin berbeda dari saudara, sepupu, atau anak teman. Ia mungkin tidak menyukai hal yang sama dengan orangtuanya. Ia bisa saja membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami sesuatu, atau menunjukkan minat yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Tugas orangtua bukan memaksanya menjadi salinan diri sendiri, melainkan mendampingi agar ia dapat mengenal dan mengembangkan dirinya dengan sehat.
Pesan tersebut tidak berarti anak boleh melakukan apa pun tanpa batas. Justru, buku ini membantu membedakan antara mendidik dan mengendalikan. Anak tetap perlu aturan, konsekuensi, dan arahan. Bedanya, batasan diberikan untuk membantu anak belajar bertanggung jawab, bukan untuk melampiaskan amarah atau mempertahankan gengsi orangtua.
Orangtua sebagai Teman Bertumbuh
Salah satu gagasan yang menurut saya paling menarik adalah bahwa anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna. Anak membutuhkan orang dewasa yang mau hadir, mendengarkan, dan bersedia bertumbuh bersamanya. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi penerapannya tidak selalu mudah. Banyak orangtua membawa bayangan bahwa mereka harus selalu punya jawaban, selalu tenang, dan tidak boleh terlihat bingung di hadapan anak.
Padahal, mengakui kesalahan dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga. Ketika orangtua meminta maaf karena membentak, anak belajar bahwa hubungan bisa diperbaiki. Ketika orangtua berkata belum tahu dan mau mencari tahu, anak belajar bahwa tidak mengetahui sesuatu bukan hal yang memalukan. Ketika orangtua bersedia mendengarkan alasan anak, anak belajar bahwa komunikasi bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling berkuasa.
Pendekatan semacam ini membuat hubungan orangtua dan anak terasa lebih setara secara manusiawi, meskipun peran mereka tetap berbeda. Orangtua tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab memberi perlindungan dan arah. Akan tetapi, ia tidak harus menggunakan rasa takut sebagai alat utama. Wibawa bisa dibangun melalui konsistensi, kasih sayang, dan ketegasan yang masuk akal.
Bagi pembaca yang sering merasa bersalah karena tidak mampu menjalankan semua teori parenting, bagian ini mungkin terasa seperti ruang bernapas. Buku ini tidak menghapus tanggung jawab orangtua, tetapi mengingatkan bahwa proses belajar tidak pernah selesai. Tidak ada keluarga yang menjalani hari-hari tanpa konflik. Yang penting adalah bagaimana konflik tersebut dihadapi dan apakah setelahnya ada usaha untuk memperbaiki hubungan.
Gaya Penulisan yang Dekat dan Reflektif
Gaya penulisan Angga Setyawan cenderung komunikatif dan mudah diikuti. Ia tidak menggunakan istilah psikologi yang rumit secara berlebihan, sehingga pembaca dari berbagai latar belakang dapat masuk ke dalam pembahasannya. Nada tulisannya terasa seperti seseorang yang sedang mengajak berdiskusi, bukan menggurui dari tempat yang lebih tinggi.
Hal ini menjadi salah satu kekuatan penulis buku Anak Juga Manusia. Angga mampu mengemas topik yang serius dengan bahasa yang cukup ringan, tetapi tidak kehilangan bobot renungannya. Ada kalimat-kalimat yang bisa dibaca cepat, lalu tiba-tiba membuat pembaca kembali ke halaman sebelumnya karena merasa tersentil. Bukan sentilan yang menghakimi, melainkan semacam pengingat bahwa orangtua pun punya andil dalam suasana yang tercipta di rumah.
Penyampaian gagasannya juga terasa cocok untuk pembaca yang tidak terbiasa menamatkan buku parenting yang tebal dan teoritis. Buku ini dapat dibaca secara berurutan, tetapi beberapa bagian juga memungkinkan untuk dinikmati secara terpisah. Kamu bisa membacanya ketika sedang punya waktu luang, menandai bagian yang paling relevan, lalu kembali lagi ketika menghadapi situasi tertentu bersama anak.
Ilustrasi dan kutipan renungan yang melengkapi buku membuat ritmenya lebih variatif. Elemen tersebut bukan sekadar hiasan, karena membantu memberi jeda di antara pembahasan. Dalam buku yang banyak mengajak pembaca bercermin, jeda seperti ini cukup berguna agar tulisan tidak terasa terlalu padat atau melelahkan.
Penyampaian Isi yang Tidak Mengandalkan Resep Instan
Saya menyukai cara buku ini menghindari janji bahwa satu metode dapat menyelesaikan semua persoalan pengasuhan. Anak berbeda-beda, begitu pula kondisi keluarga, karakter orangtua, lingkungan sosial, dan tantangan yang dihadapi. Karena itu, pendekatan yang terlalu kaku sering kali justru membuat orangtua panik ketika kenyataan tidak berjalan sesuai panduan.
Buku Anak Juga Manusia lebih banyak mengajak pembaca membangun kesadaran. Sebelum bertanya bagaimana membuat anak menuruti perintah, pembaca diarahkan untuk mempertimbangkan alasan di balik perilaku anak. Sebelum memberi label “nakal”, orangtua diajak melihat apakah anak sedang lelah, kecewa, takut, bingung, atau belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri.
Pola berpikir ini tidak serta-merta membuat semua masalah hilang. Anak tetap bisa menangis, menolak, atau mengulang kesalahan yang sama. Namun, respons orangtua dapat berubah. Dari yang semula langsung memarahi, orangtua mungkin belajar memberi waktu. Dari yang biasanya memaksakan kehendak, orangtua mulai menawarkan pilihan. Perubahan kecil semacam itu dapat memengaruhi suasana rumah dalam jangka panjang.
Menurut saya, penyampaian seperti ini membuat buku tersebut lebih awet dibaca. Buku parenting yang hanya berisi trik praktis bisa terasa tidak relevan ketika anak bertambah usia atau situasi keluarga berubah. Sementara itu, prinsip menghargai anak, mengelola emosi, dan terus belajar akan tetap berguna dalam berbagai tahap perkembangan.
Bagian yang Paling Menarik
Bagian paling kuat dari buku ini adalah keberaniannya menggeser pusat pembicaraan dari perilaku anak menuju hubungan antara anak dan orangtua. Dalam banyak percakapan sehari-hari, anak sering disebut sebagai sumber masalah. Anak dianggap keras kepala, terlalu sensitif, tidak bisa diatur, atau membuat orangtua malu. Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa perilaku tersebut biasanya memiliki konteks.
Ketika seorang anak terus mencari perhatian, mungkin ia sedang membutuhkan kedekatan. Ketika ia mudah marah, mungkin ia belum tahu bagaimana menyampaikan rasa kecewa. Ketika ia menolak perintah, bisa jadi ia sedang belajar memiliki kehendak sendiri. Memahami konteks bukan berarti selalu menyetujui perilaku anak. Pemahaman justru membantu orangtua memberikan respons yang lebih tepat.
Saya juga tertarik pada penekanan bahwa mendampingi anak membutuhkan bekal ilmu. Kasih sayang saja penting, tetapi tidak selalu cukup. Orangtua perlu belajar tentang perkembangan emosi, komunikasi, batasan, dan cara mengelola reaksinya sendiri. Pengetahuan itu bukan untuk menjadikan pengasuhan sebagai proyek akademis, melainkan agar niat baik tidak berubah menjadi tindakan yang melukai.
Pesan lainnya yang terasa kuat adalah pentingnya menyediakan diri dan hati. Kehadiran orangtua tidak hanya diukur dari berapa banyak barang yang dibelikan atau berapa besar biaya sekolah yang dibayar. Anak juga membutuhkan perhatian yang tidak terburu-buru, percakapan yang tidak langsung dipotong, dan rasa aman ketika bercerita. Dalam kehidupan yang serba cepat, pengingat semacam ini terasa sangat relevan.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan utama buku ini terletak pada topiknya yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Ia membicarakan pengalaman yang mungkin pernah dialami hampir setiap keluarga: salah paham, emosi yang meledak, harapan yang terlalu tinggi, dan kesulitan meminta maaf. Bahasa yang hangat membuat pembaca lebih mudah menerima pesan tanpa merasa sedang diadili.
Strukturnya juga cukup bersahabat untuk pembaca umum. Ilustrasi dan kutipan membantu menjadikan buku lebih ringan, sementara pembahasan yang reflektif memberi kedalaman. Buku ini cocok untuk dibaca perlahan, karena beberapa gagasannya lebih baik direnungkan daripada sekadar dikejar sampai halaman terakhir.
Meski demikian, pembaca yang mencari panduan teknis sangat rinci mungkin merasa buku ini belum menjawab semua kebutuhan. Buku ini tidak dirancang sebagai manual langkah demi langkah untuk setiap persoalan, misalnya pola tidur, pemilihan sekolah, atau penanganan perilaku tertentu secara sangat spesifik. Fokusnya lebih pada fondasi cara pandang dan sikap orangtua.
Growing Up Mindful :Membentuk Anak Bahagia & Berkesadaran Pikiran
Christoper Willard, Psyd
Selain itu, pembaca yang sudah lama mengikuti diskusi parenting mungkin menemukan sejumlah gagasan yang terasa familiar. Namun, familiar bukan berarti tidak penting. Dalam pengasuhan, masalahnya sering kali bukan kurangnya informasi, melainkan sulitnya menerapkan hal yang sebenarnya sudah kita ketahui. Karena itu, kekuatan buku ini lebih terletak pada cara mengingatkan dan mengajak bercermin daripada menawarkan teori yang sepenuhnya baru.
Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini?
Buku ini cocok untuk orangtua yang sedang mencari cara membangun hubungan lebih sehat dengan anak. Orangtua baru dapat menjadikannya sebagai pengingat sejak awal bahwa pengasuhan bukan perlombaan menjadi sempurna. Orangtua yang anaknya sudah lebih besar pun tetap dapat menemukan bahan refleksi, terutama ketika mulai menghadapi perbedaan pendapat dan kebutuhan anak untuk lebih mandiri.
Calon orangtua juga bisa membaca buku ini agar memiliki gambaran yang lebih realistis tentang pengasuhan. Menjadi orangtua bukan hanya soal menyiapkan perlengkapan bayi, memilih nama, atau membuat rencana pendidikan. Ada kesiapan emosional yang perlu dibangun, termasuk kesediaan mengakui bahwa anak tidak selalu akan berjalan sesuai skenario yang dibuat.
Selain itu, buku ini menarik bagi guru, pengasuh, konselor, dan siapa pun yang sehari-hari berinteraksi dengan anak. Sudut pandangnya membantu kita lebih berhati-hati ketika memberi komentar atau menilai perilaku anak. Bahkan bagi pembaca yang belum memiliki anak, buku ini tetap dapat memperluas pemahaman tentang bagaimana pengalaman masa kecil dan cara orang dewasa berbicara dapat meninggalkan pengaruh panjang.
Harga Buku Anak Juga Manusia
Untuk urusan harga, harga buku Anak Juga Manusia tercatat sebesar Rp69.000 untuk harga normal. Sementara itu, harga diskonnya adalah Rp58.650. Dengan jumlah 184 halaman, harga tersebut cukup masuk akal untuk buku parenting yang bisa dibaca oleh orangtua, calon orangtua, maupun pemerhati anak.
Nilai buku ini tidak hanya berada pada jumlah informasi praktis yang diberikan. Ada nilai reflektif yang membuatnya layak dibaca ulang ketika pembaca sedang berada dalam fase pengasuhan yang berbeda. Barangkali saat pertama membaca, Kamu hanya menangkap pesan tentang komunikasi. Beberapa waktu kemudian, Kamu bisa menemukan bagian yang terasa lebih dekat karena pengalaman bersama anak sudah berubah.
Kesimpulan
Pada akhirnya, review buku Anak Juga Manusia ini membawa saya pada satu kesimpulan sederhana: pengasuhan yang baik dimulai dari cara kita memandang anak. Jika anak dianggap sebagai manusia yang perlu dihormati, maka cara berbicara, memberi aturan, menghadapi kesalahan, dan menunjukkan kasih sayang akan ikut berubah. Perubahannya mungkin tidak langsung dramatis, tetapi bisa dimulai dari hal kecil seperti mendengarkan tanpa buru-buru menyela.
Angga Setyawan berhasil menyampaikan bahwa orangtua tidak harus memiliki semua jawaban. Yang jauh lebih penting adalah kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Buku ini tidak menjanjikan keluarga tanpa konflik, tetapi menawarkan cara menghadapi konflik dengan lebih sadar dan penuh empati.
Secara keseluruhan, saya merekomendasikan buku Anak Juga Manusia untuk Kamu yang ingin membaca buku parenting dengan bahasa ringan, pesan kuat, dan banyak ruang untuk merenung. Ini bukan buku yang selesai dibaca lalu dilupakan begitu saja. Beberapa gagasannya mungkin akan kembali teringat ketika Kamu hampir membentak, ketika anak sedang sulit diajak bekerja sama, atau ketika Kamu merasa gagal menjadi orangtua.
Dan mungkin di situlah nilai terbaik buku ini. Ia tidak meminta kita menjadi orangtua tanpa cela. Ia hanya mengajak kita mengingat bahwa di hadapan kita ada seorang anak yang sedang belajar menjadi manusia, sementara kita pun sebenarnya masih melakukan hal yang sama.
Rating Keseluruhan
4.3 / 5
"Gw kira bakal berasa kayak buku petunjuk jadi orangtua, ternyata lebih banyak ngajak orangtua buat belajar bareng anak. Ilustrasinya bikin bacanya nggak terlalu berat, walau beberapa renungannya harus dibaca pelan2."
— Bagus A.
Ditulis oleh
Resensi Buku
Manusia yang suka baca sinopsis buku, suka beli buku, tapi nggak terlalu suka baca buku. Memang aneh :D