Parenting & Child Development · 02 September 2026

The Danish Way Of Parenting

The Danish Way Of Parenting
Judul Buku The Danish Way Of Parenting
Penulis Jessica Joelle Alexander & Iben Dissin Sandahl
Penerbit Bentang Pustaka
Terbit 2018
Halaman 208 halaman
Genre Parenting & Child Development
Rating ★★★★ 4.4 / 5

Resensi Buku The Danish Way Of Parenting: Belajar Membesarkan Anak dengan Lebih Tenang

The Danish Way Of Parenting

Ada banyak buku parenting yang membuat orang tua pulang dengan daftar tugas baru: harus begini, tidak boleh begitu, perlu melakukan ini setiap hari, dan seterusnya. The Danish Way Of Parenting terasa sedikit berbeda karena buku ini tidak sekadar menawarkan teknik mengasuh anak, tetapi mengajak kita melihat ulang hubungan antara kebahagiaan, ketangguhan mental, dan cara orang dewasa memperlakukan anak. Setelah membaca buku ini, saya merasa bahwa menjadi orang tua ternyata bukan perlombaan untuk menghasilkan anak yang selalu patuh atau selalu berprestasi. Ada pekerjaan yang jauh lebih mendasar, yaitu membantu anak mengenali dirinya sendiri dan merasa aman untuk tumbuh.

Buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada 2018 ini ditulis oleh Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissin Sandahl. Dengan jumlah 208 halaman, buku ini cukup ringkas untuk dibaca secara bertahap, tetapi gagasannya bisa menetap cukup lama di kepala. Dalam resensi buku The Danish Way Of Parenting ini, saya ingin membahas bukan hanya gagasan tentang pola asuh Denmark, melainkan juga bagaimana gagasan tersebut terasa ketika dibawa ke kehidupan keluarga sehari-hari. Sebab, teori parenting biasanya baru benar-benar diuji ketika anak sedang tantrum, orang tua sedang lelah, dan suasana rumah jauh dari ideal.

Gambaran Umum Buku

The Danish Way Of Parenting

The Danish Way Of Parenting berangkat dari sebuah pertanyaan yang menarik: mengapa Denmark selama puluhan tahun sering muncul sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia? Jawaban buku ini tidak berhenti pada faktor ekonomi, fasilitas publik, atau kondisi sosial yang relatif stabil. Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissin Sandahl menghubungkannya dengan pola pengasuhan yang membantu anak tumbuh menjadi pribadi tangguh, mampu mengelola emosi, dan punya rasa percaya terhadap lingkungan di sekitarnya.

Premisnya terdengar sederhana, tetapi justru di situlah daya tarik buku ini. Kebahagiaan tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus dikejar secara langsung dengan terus-menerus membuat anak senang. Kebahagiaan lebih dipandang sebagai hasil dari proses panjang: anak merasa diterima, diberi ruang bermain, dibantu memahami emosi, diajarkan melihat masalah dengan lebih realistis, serta dibesarkan dalam relasi keluarga yang hangat. Dari sudut pandang ini, bahagia bukan berarti hidup tanpa kecewa, melainkan memiliki bekal untuk menghadapi kekecewaan.

Sinopsis buku The Danish Way Of Parenting secara singkat dapat dirangkum melalui beberapa gagasan utama yang saling berkaitan. Buku ini membahas pentingnya bermain, keaslian dalam merespons perasaan, perubahan cara memandang sesuatu, empati, tidak memberi ultimatum berlebihan, dan membangun kedekatan sebagai orang tua. Keenam gagasan itu tidak disajikan sebagai jurus instan, melainkan sebagai kebiasaan yang perlu dilatih. Karena itu, buku ini lebih tepat dibaca sebagai ajakan mengubah cara berpikir daripada manual yang harus diikuti secara kaku.

Pesan Utama: Anak Tidak Perlu Selalu Dibentuk Menjadi Versi Ideal

The Danish Way Of Parenting

Salah satu hal yang paling menonjol dari buku ini adalah kritiknya terhadap kebiasaan orang dewasa yang terlalu cepat memberi label kepada anak. Anak yang aktif disebut nakal, anak yang pendiam dianggap tidak percaya diri, anak yang menangis dicap cengeng, sementara anak yang berani membantah sering langsung dinilai tidak sopan. Label semacam itu mungkin terasa praktis bagi orang tua, tetapi bisa memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Ketika sebuah penilaian diulang terus-menerus, anak berisiko mempercayainya sebagai identitas.

Buku ini mengajak orang tua membedakan antara perilaku dan pribadi anak. Anak boleh melakukan kesalahan tanpa harus disimpulkan sebagai anak yang buruk. Pembedaan ini tampak kecil, tetapi dampaknya besar karena anak tetap diberi batas sekaligus tidak dipermalukan. Menurut saya, pendekatan seperti ini cukup relevan untuk keluarga mana pun, termasuk keluarga di Indonesia yang masih sering menggunakan rasa malu sebagai alat disiplin.

Dalam review buku The Danish Way Of Parenting, bagian tentang sudut pandang orang tua menjadi salah satu pembahasan yang paling penting. Anak tidak selalu sedang berusaha menyusahkan orang tua, meskipun perilakunya memang melelahkan. Bisa jadi ia belum mampu mengungkapkan rasa takut, lelah, kecewa, atau bingung dengan cara yang bisa dipahami orang dewasa. Melihat perilaku sebagai bentuk komunikasi tidak berarti membiarkan semuanya, tetapi membantu orang tua memilih respons yang lebih tepat.

Buku ini juga menempatkan kebahagiaan dalam kerangka yang lebih dewasa. Anak tidak akan menjadi pribadi kuat jika setiap masalah segera disingkirkan dari hadapannya. Ia perlu mengalami frustrasi dalam kadar yang wajar, merasakan kehilangan kecil, gagal dalam permainan, dan belajar mencoba lagi. Peran orang tua bukan menghapus semua kesulitan, melainkan menemani anak melalui kesulitan itu tanpa membuatnya merasa sendirian.

Parenting Detox
Parenting & Child Development

Parenting Detox

Angga Setyawan

Beli Buku Ini

Enam Gagasan yang Membentuk Pendekatan Denmark

Pembahasan buku disusun di sekitar enam unsur yang menjadi inti pendekatan pengasuhan Denmark. Unsur pertama adalah bermain, yang sering dianggap sepele di tengah tekanan akademik dan jadwal anak yang padat. Padahal, permainan memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan, bernegosiasi, menghadapi risiko, dan mengenali batas kemampuannya. Anak belajar banyak hal ketika bermain tanpa terus-menerus diarahkan oleh orang dewasa.

Di bagian ini, saya menangkap kritik halus terhadap pola asuh yang terlalu terstruktur. Banyak orang tua ingin setiap jam anak diisi kegiatan yang dianggap berguna, mulai dari les hingga latihan berbagai keterampilan. Masalahnya, anak bisa kehilangan kesempatan untuk menemukan minatnya sendiri dan mengembangkan daya tahan ketika menghadapi kebosanan. Buku ini mengingatkan bahwa kebosanan tidak selalu musuh; kadang-kadang justru dari sanalah kreativitas muncul.

Unsur berikutnya adalah keaslian, terutama dalam cara orang tua membicarakan emosi dan pengalaman hidup. Anak tidak selalu membutuhkan kalimat penghiburan yang dibuat-buat. Ketika anak kecewa, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja padahal jelas tidak demikian bisa membuat perasaannya terasa tidak sah. Respons yang lebih jujur dan tetap penuh kasih membantu anak memahami bahwa sedih, marah, atau takut adalah bagian normal dari kehidupan.

Gagasan tentang reframing juga menarik karena mengajarkan orang tua mengubah sudut pandang tanpa memanipulasi kenyataan. Reframing bukan berarti memaksa anak melihat hal buruk sebagai sesuatu yang menyenangkan. Intinya adalah membantu anak menemukan cara yang lebih seimbang dalam memahami pengalaman. Misalnya, kegagalan tidak harus dibaca sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu, tetapi sebagai informasi bahwa ada bagian yang perlu dipelajari atau dicoba dengan cara berbeda.

Empati menjadi unsur yang terasa sangat kuat dalam buku ini. Anak perlu belajar memahami perasaan orang lain, tetapi kemampuan tersebut tidak tumbuh hanya karena diperintah untuk “mengerti”. Anak belajar empati melalui pengalaman ketika perasaannya sendiri didengarkan dan dihargai. Orang tua yang mampu hadir dengan empati memberi contoh konkret, bukan sekadar nasihat abstrak.

Unsur terakhir berkaitan dengan kedekatan dan cara membangun relasi keluarga. Hubungan yang hangat tidak berarti rumah tanpa aturan atau konflik. Justru, kedekatan yang sehat membuat batasan lebih mudah diterima karena anak tahu bahwa aturan bukan tanda penolakan. Ia bisa tidak setuju kepada orang tua, tetapi tetap merasa dicintai.

Gaya Penulisan dan Cara Buku Ini Menyampaikan Gagasan

Gaya penulisan Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissin Sandahl cenderung komunikatif. Pembaca tidak diajak berhadapan dengan istilah psikologi yang rumit atau penjelasan akademis yang terlalu padat. Buku ini lebih banyak menggunakan contoh situasi keluarga dan pertanyaan reflektif yang membuat kita berhenti sejenak. Sesekali, kita mungkin merasa sedang bercermin pada kebiasaan sendiri.

Penulis juga tidak menyajikan orang tua Denmark sebagai manusia sempurna yang selalu tenang, sabar, dan tahu jawaban atas semua persoalan. Ini penting karena gambaran tentang pola asuh dari negara lain mudah berubah menjadi mitos. Buku ini lebih berguna ketika dibaca sebagai kumpulan prinsip yang bisa disesuaikan, bukan sebagai standar baru untuk menghakimi orang tua. Tidak ada orang tua yang mampu menerapkan semua gagasan dengan sempurna setiap hari.

Alur penyampaiannya cukup teratur. Pembaca diperkenalkan pada konteks kebahagiaan Denmark, kemudian diajak masuk ke enam unsur utama, lalu diarahkan untuk memikirkan penerapannya dalam relasi dengan anak. Struktur seperti ini membuat buku mudah diikuti, terutama bagi pembaca yang baru mulai mencari referensi parenting. Setiap gagasan dapat dibaca secara terpisah, meskipun maknanya akan terasa lebih utuh jika dibaca dari awal hingga akhir.

The Montessori Baby
Parenting & Child Development

The Montessori Baby

Simone Davies & Junnifa Uzodike

Beli Buku Ini

Prakata Ayah Edy memberi konteks tambahan bagi pembaca Indonesia. Ia menghubungkan gagasan buku dengan cita-cita membangun keluarga dan masyarakat yang lebih kuat. Bagi sebagian pembaca, bagian ini mungkin terasa cukup idealistis, tetapi kehadirannya menunjukkan bahwa buku tersebut memang ingin dibaca sebagai bahan refleksi yang relevan dengan kehidupan keluarga di Indonesia, bukan hanya sebagai potret budaya luar.

Hal yang Paling Menarik

Bagian paling menarik bagi saya adalah gagasan bahwa kualitas hubungan orang tua dan anak memiliki dampak jangka panjang terhadap cara seseorang memandang dunia. Anak yang terbiasa didengarkan kemungkinan memiliki fondasi lebih baik untuk mendengarkan orang lain. Anak yang tidak dipermalukan ketika melakukan kesalahan bisa lebih berani mengakui kegagalan. Tentu tidak ada pola asuh yang bisa menjamin hasil tertentu secara mutlak, tetapi kebiasaan sehari-hari jelas ikut membentuk cara anak merespons kehidupan.

Saya juga menyukai penekanan buku terhadap permainan bebas. Dalam praktiknya, banyak keluarga modern justru merasa bersalah ketika anak tidak sedang belajar sesuatu yang terukur. Padahal, tidak semua perkembangan bisa terlihat melalui nilai, sertifikat, atau kemampuan baru. Saat anak membuat aturan permainan sendiri, menghadapi konflik dengan teman, atau mencoba sesuatu yang sedikit menantang, ia sedang melatih kemampuan yang kelak berguna jauh setelah masa kanak-kanak berakhir.

Hal lain yang membuat buku ini terasa dekat adalah pembahasan mengenai disiplin. Disiplin tidak digambarkan sebagai pertarungan antara orang tua yang harus menang dan anak yang harus tunduk. Orang tua tetap perlu menetapkan batas, tetapi batas itu disampaikan dengan tenang, jelas, dan konsisten. Pendekatan ini menuntut pengendalian diri dari pihak orang tua, sehingga pada akhirnya buku ini bukan hanya berbicara tentang cara mengubah anak, melainkan juga tentang kesediaan orang tua mengubah responsnya sendiri.

Kelebihan Buku

Kelebihan terbesar buku ini terletak pada pesannya yang praktis tanpa terlalu menyederhanakan persoalan. Pembaca tidak hanya diberi anjuran untuk lebih sabar, tetapi diajak memahami mengapa sabar, empati, permainan, dan kejujuran emosional penting. Penjelasan semacam ini membuat gagasan lebih mudah diingat karena tidak berdiri sebagai daftar perintah. Kamu bisa mengambil satu bagian yang paling sesuai dengan kondisi keluarga, lalu mulai berlatih dari sana.

Buku ini juga punya kelebihan dalam menggeser fokus dari hasil cepat ke proses panjang. Anak yang tenang dan tangguh tidak terbentuk dalam satu percakapan, apalagi setelah orang tua membaca satu buku. Perubahan lahir dari banyak interaksi kecil yang dilakukan berulang-ulang. Kesadaran semacam ini membantu pembaca menghindari ekspektasi bahwa metode tertentu akan langsung membuat suasana rumah berubah.

Bahasanya ringan sehingga buku ini cocok dibaca oleh orang tua baru maupun orang tua yang sudah lama menjalani pengasuhan. Pasangan juga bisa membacanya bersama karena banyak topik yang membuka ruang percakapan tentang nilai keluarga. Bahkan pembaca yang belum memiliki anak tetap dapat memperoleh perspektif tentang komunikasi, emosi, dan hubungan antarmanusia.

Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan

Meski menarik, buku ini bukan jawaban untuk semua situasi keluarga. Pendekatan yang lahir dari konteks sosial Denmark tentu tidak bisa dipindahkan begitu saja ke Indonesia tanpa penyesuaian. Kondisi ekonomi, struktur keluarga, nilai budaya, dukungan komunitas, dan akses pendidikan sangat memengaruhi praktik pengasuhan. Pembaca perlu mengambil prinsipnya sambil tetap mempertimbangkan realitas keluarga masing-masing.

Beberapa gagasan di dalamnya juga dapat terasa terlalu ideal ketika diterapkan dalam situasi tertentu. Orang tua yang bekerja dengan jadwal panjang, mengasuh sendirian, atau tidak memiliki dukungan keluarga mungkin kesulitan menyediakan waktu dan energi seperti yang disarankan. Selain itu, anjuran untuk tetap tenang dalam menghadapi perilaku anak terdengar mudah saat dibaca, tetapi jauh lebih sulit ketika orang tua sedang kurang tidur atau menghadapi tekanan lain.

Growing Up Mindful :Membentuk Anak Bahagia & Berkesadaran Pikiran
Parenting & Child Development

Growing Up Mindful :Membentuk Anak Bahagia & Berkesadaran Pikiran

Christoper Willard, Psyd

Beli Buku Ini

Kekurangan lain adalah pembaca mungkin menginginkan lebih banyak contoh yang sangat spesifik untuk berbagai usia dan kondisi. Anak balita, anak usia sekolah, dan remaja tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Namun, keterbatasan ini tidak sepenuhnya mengurangi nilai buku karena prinsip dasarnya masih dapat diterjemahkan ke dalam banyak situasi. Kamu hanya perlu meluangkan waktu untuk mengolahnya menjadi tindakan yang realistis.

Siapa yang Cocok Membaca Buku Ini?

The Danish Way Of Parenting cocok untuk Kamu yang sedang mencari bacaan parenting dengan pendekatan hangat dan reflektif. Buku ini terutama bermanfaat bagi orang tua yang merasa terlalu sering terjebak dalam pola marah, mengancam, membandingkan, atau buru-buru menyelesaikan masalah anak. Bukan berarti setelah membaca buku ini semua kebiasaan tersebut langsung hilang, tetapi Kamu akan memiliki bahasa dan sudut pandang baru untuk mengenalinya.

Buku ini juga layak dibaca oleh guru, pengasuh, dan anggota keluarga lain yang ikut berperan dalam tumbuh kembang anak. Pengasuhan tidak berlangsung hanya melalui hubungan anak dan ibu atau ayah. Cara kakek-nenek, guru, dan lingkungan sekitar merespons kesalahan serta emosi anak ikut membangun pengalaman mereka. Semakin banyak orang dewasa yang memiliki pemahaman serupa, semakin konsisten pula pesan yang diterima anak.

Bagi pembaca yang mengharapkan panduan sangat teknis, buku ini mungkin terasa kurang memuaskan. Isinya bukan kumpulan jadwal, daftar aktivitas, atau resep menghadapi tantrum dalam hitungan menit. Sebaliknya, buku ini lebih cocok bagi Kamu yang bersedia berhenti sejenak dan bertanya: apakah cara saya berbicara kepada anak selama ini membuatnya merasa aman, dihargai, dan mampu belajar dari kesalahan?

Harga dan Informasi Buku

Untuk Kamu yang ingin menambahkan buku ini ke rak bacaan keluarga, harga buku The Danish Way Of Parenting tercantum sebesar Rp79.000 sebagai harga normal. Harga diskonnya adalah Rp67.150, sehingga cukup terjangkau untuk buku parenting yang bisa dibaca ulang pada berbagai tahap perkembangan anak. Karena isi buku berfokus pada prinsip, bukan tren sesaat, nilainya tidak cepat habis setelah sekali baca.

Informasi singkat mengenai penulis buku The Danish Way Of Parenting juga menarik untuk diperhatikan. Jessica Joelle Alexander dikenal sebagai penulis dan kolumnis yang banyak membahas budaya Denmark, sedangkan Iben Dissin Sandahl merupakan psikoterapis asal Denmark. Kombinasi perspektif budaya dan pengalaman profesional membuat buku ini tidak hanya membicarakan kebiasaan rumah tangga, tetapi juga mencoba menjelaskan alasan psikologis di baliknya.

Kesimpulan

Buku The Danish Way Of Parenting bukan bacaan yang menjanjikan anak sempurna atau rumah tanpa konflik. Justru, kekuatannya ada pada ajakan untuk menerima bahwa konflik, kecewa, dan kesalahan merupakan bagian dari proses tumbuh. Tugas orang tua bukan mengontrol semua pengalaman anak, melainkan membantu anak melewati pengalaman itu dengan rasa aman dan kepercayaan diri.

Bagi saya, buku ini layak dibaca karena pesannya sederhana tetapi tidak dangkal: hubungan yang baik dibangun dari banyak respons kecil yang dilakukan setiap hari. Kita mungkin tidak bisa meniru seluruh kebiasaan masyarakat Denmark, dan memang tidak perlu. Yang bisa dilakukan adalah membawa pulang prinsip yang paling masuk akal, lalu menyesuaikannya dengan nilai keluarga, budaya, dan keadaan kita sendiri.

Jadi, apakah review buku The Danish Way Of Parenting ini berujung pada rekomendasi? Jawabannya ya, terutama untuk Kamu yang ingin memandang parenting dengan lebih manusiawi dan tidak terlalu sibuk mengejar kesempurnaan. Buku ini tidak akan menghapus tantangan dalam mengasuh anak, tetapi bisa membantu Kamu menghadapi tantangan tersebut dengan lebih sadar. Pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang tahu banyak hal, tetapi juga orang tua yang mau terus belajar memahami dirinya dan anaknya.

Rating Keseluruhan

★★★★

4.4 / 5

"Yang paling mengena bagi saya adalah tujuan mengasuh anak bukan sekadar supaya patuh, tetapi agar tangguh, mampu mengelola emosi, dan bahagia. Cara pandang keluarga Denmark terasa sederhana, walau penerapannya jelas butuh kesabaran dan latihan terus-menerus."

— Ratih

Tags: Resensi Buku The Danish Way Of Parenting Review Buku The Danish Way Of Parenting Sinopsis Buku The Danish Way Of Parenting Buku Parenting & Child Development
AT

Ditulis oleh

Resensi Buku

Manusia yang suka baca sinopsis buku, suka beli buku, tapi nggak terlalu suka baca buku. Memang aneh :D

Bagikan: Twitter Facebook
Bacaan Selanjutnya
The Montessori Baby

Parenting & Child Development

The Montessori Baby

Resensi Buku The Montessori Baby: Belajar Melihat Bayi sebagai Manusia Utuh Resensi...

Belahan Jantungku

Parenting & Child Development

Belahan Jantungku

Belahan Jantungku: Perjalanan Menjadi Ibu, Sekaligus Menemukan Diri Sendiri Ada buku tentang...

Anak Juga Manusia

Parenting & Child Development

Anak Juga Manusia

Resensi Buku Anak Juga Manusia: Belajar Menjadi Orangtua yang Mau Tumbuh Ada...